Sejak didirikan pada 1991, J-League telah menjadi kompetisi terdepan di
Asia. Tidak hanya menjadi ajang yang memperoleh animo dalam negeri dan
regional, tetapi kompetisi itu telah pula menjadi batu loncatan sejumlah
pemain Asia untuk berkiprah di kompetisi top Eropa. Alumnus J-League
telah banyak dikenal fans sepakbola dunia, mulai dari Hidetoshi Nakata,
Park Ji-sung, Keisuke Honda, hingga Shinji Kagawa.
Selain itu,
persaingan sengit juga kerap terjadi di J-League dengan klub-klub yang
bergantian mendominasi liga. Mulai dari Verdy Kawasaki, Yokohama
Marinos, Jubilo Iwata, Urawa Reds, hingga Gamba Osaka, misalnya. Gairah
pun terus meningkat dengan rekor rata-rata penonton yang mampu menyaingi
kompetisi top Eropa. Tidak heran jika ternyata semua program
pengembangan liga tersusun rapi dalam "Visi Ratusan Tahun" yang
diharapkan mampu menciptakan "Negara Bahagia Melalui Olahraga".
Semuanya terangkum dalam sejarah J-League yang disusun
Goal dalam lima bagian:
 |
| Bagaimana sepakbola dikenal masyarakat
Jepang? Apa kompetisi sepakbola pertama di negeri Matahari Terbit ini?
Bagaimana persaingan klub pionir di sana? Siapa pencetus J-League?
Bagaimana mereka menyusun kompetisi profesional pertama di Jepang itu?
Semua terjawab di bagian ini. |
|
 |
| J-League menggunakan sistem kompetisi
yang unik dan diratifikasi oleh FIFA. Pada tahun-tahun awal kompetisi,
Verdy Kawasaki dan Kashima Antlers bersaing sengit menjadi yang terbaik.
Salah satu momen yang tak terlupakan adalah insiden Zico di final
kompetisi di Stadion Nasional, Tokyo. Seperti apa ceritanya? Simak saja
bagian kedua ini. |
|
 |
| Ada kesemarakan, ada pula periode sulit.
J-League mengalami masa-masa suram pada 1996 hingga 2002 karena
kemerosotan ekonomi yang melanda Jepang. Namun, di atas lapangan, sosok
seperti Dunga dan Dragan Stojkovic menjadi warna tersendiri. Baca cerita
selengkapnya di bagian ketiga ini. |
|
 |
| Masa suram tak berlangsung lama.
Klub-klub Jepang mulai mendominasi persaingan antarklub regional,
seperti di ajang Liga Champions Asia, melalui dua rival, Urawa Reds dan
Gamba Osaka. Kemudian pemain berbakat seperti Hidetoshi Nakata
membuktikan kepantasan sehingga klub-klub Eropa mulai melirik pemain
Jepang. Bagian keempat mengisahkannya. |
|
 |
| Di bagian terakhir ini diceritakan
perkembangan kiwari J-League dan sepakbola Jepang secara umum.
Pertumbuhan suporter menggembirakan, timnas sukses melangkah ke Piala
Dunia untuk kali kelima berturut-turut, dan ekspor pemain belum
berhenti. Semuanya berkat visi program jangka panjang dan cita-cita
membangun negara melalui olahraga. Lengkap dibeberkan di sini. |
|