
Kita tentulah pernah bahkan sering mendengar kisah-kisah tentang Umar bin Khattab, seorang Kalifahtul Raasyidin ke dua, sahabat rasulullah yang terkenal memiliki watak sangat keras namun seorang yang juga paling gampang menangis. Betapa tidak, barangkali ia mengingat dosa-dosany di masa lampau sebelum memeluk Islam. Dimasa jahiliayahnya dia adalah penentang keras Islam, tidak sedikit pemeluk Islam mendapat perlakuan kasar darinya, dia suka mabuk-mabukan, dan bahkan sampai tega membunuh anak perempuannya, dia mengubur anak perempuannya yang baru lahir hidup-hidup dikarenakan rasa malu. Bahkan diceritakan dia termasuk orang pada masa jahiliyah yang membuat berhala dari makanan, menyembahnya lalu kemudian berhala itu dimakan. Tidak heran saat masuk Islamnya Umar hal ini menggemparkan kaum Quraish tetapi disambut suka cita dan gema takbir oleh kaum muslim. Masuk Islamnya Umar mengawali pensyi’aran Islam secara terang-terangan, sehingga tak heran Ibnu Mas’ud berkata : “Kami dahulu tidak ada yang berani shalat di depan Ka’bah hingga Umar masuk Islam.” Dan bahkan pada saat perintah hijrah turun, disaat para kaum muslim yang lain ber-hijrah secara sembunyi-sembunyi, Umar Bin khattab malah mengumumkan keberangkatannya, subhanallah. Dia berkata: “Besok Umar akan berhijrah, barang siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim maka silahkan cegat Umar dijalan.” Dan besoknya beliau berhijrah dan tidak seorangpun kafir quraish berani menghalanginya.
Tapi tahukah kita bagaimana orang berwatak sekeras Umar Bin Khattab bisa memeluk Islam dan menjadi pembela Islam nomor satu? Tidak lain adalah karena al-Qur’an!! Ya, hati beliau bergetar dan mendapat hidayah dikarenakan membaca al-Qur’an. Dalam diriwayat diceritakan ayat yang beliau baca adalah surat Thaha ayat 1-14 yang diperolehnya dari adik perempuannya Fatimah dan suaminya yang tengah diajarkan oleh Khabbab bin Art. Padahal sesaat sebelum membaca itu beliau telah menghunus pedang hendak membunuh nabi Muhammad SAW.
Katakanlah (Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan Kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Qs.Al-Jin:72;1-3)
Begitu dahsyatnya dampak membaca al-Qur’an sehingga sebahagian ayat saja yang dibaca telah membuat seorang Umar Bin Khattab masuk dan meyakini kemuliaan Islam. Bahkan jika kita baca ayat-ayat pertama surat al-Jin diatas, diceritakan bagaimana bangsa Jin sekalipun sampai terkesima mendengarkan bacaan al-qur’an sehingga kemudian masuk kedalam Islam. Selanjutnya tentu pertanyaan, bagaimana dengan kita?
Sudahkan al-Qur’an membawa dampak terhadap pribadi kita? Ataukah kita sampai dalam usia sekarang masih enggan bahkan telah lupa sama sekali untuk membaca al-Qur’an? Tidakkah kita ingat bagaimana dulu dengan riang membawa al-Qur’an dan belajar membacanya saat di TPA/TPSA? Lalu ada apa sekarang? Ataukah memang al-Qur’an hanya untuk anak kecil saja? Sebagai mahar saat pernikahan dan baru dibaca lagi saat ada yang meninggal??
Na’udzubillah, terkadang kita terlalu sangat “telaten” merawat mushaf al-Qur’an kita sampai tidak mau mengotorinya dengan membacanya. Kita sapu debu yang menempel diatasnya lalu penuh kekhusukan kita cium dan taruh kembali di dalam lemari atau salah satu sudut rak buku kita. Iman kita “terlampau” kuat sehingga kita mampu mengimani al-Quran tanpa perlu membacanya. Sebagai calon sarjana kita “terlampau” pintar sehingga tidak lagi membutuhkan pedoman, padahal Allah telah jelas mengatakan bahwa al-Qur’an ini merupakan petunjuk (Al-Baqarah:2). Dan jika perkataan Allah saja kita tidak percaya, lalu perkataan siapa kah lagi yang harus kita percaya???
Perumpamaan orang Mu’min yang membaca Al Qur’an adalah seperti Buah Utrujjah (baunya harum dan rasanya lezat), orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an adalah seperti Buah Kurma (baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya), orang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat Sekuntum Bunga (berbau harum, tetapi pahit rasanya), orang munafiq yang tak suka membaca Al Qur’an tak ubahnya seperti Buah Hanzalah (tidak berbau dan rasanya pahit sekali).(HR.Bukhari & Muslim)
Eits.., bagi yang masih malas-malasan baca Qur’an jangan ge-er dulu, mentang-mentang udah dibilang rasulullah seperti buah kurma karena bukan itu maksud dari hadist ini. Tapi, mau menunjukkan bagaimana luar biasanya al-Qur’an sampai-sampai orang kafir-pun yang baca dibaratkan layaknya bunga nan harum. Apalagi kita yang muslim ya ga? So, jangan puas sekedar jadi kurma.
Dikarenakan banyaknya fadhilah membaca al-Qur’an ini, sehingga sungguh tidak masuk akal, jika kita masih mengatakan bahwasanya kita adalah orang beriman, untuk tidak membacanya setiap hari. Bahkan tidak hanya membaca, mendengarkan orang membacanya pun berpahala! Kita juga akan memperoleh ketengan hati, ilmu bermanfaat dan banyak manfaat lainnya. Al-Qur’an adalah sumber ilmu, satu persatu para ilmuan dewasa ini telah melihat dan membuktikan bagaimana kebenaran al-Qur’an itu. Karena Pedoman yang tidak akan pernah “kuno” dan ketinggalan zaman. Allah telah menjaminnya, tidak seperti kitab-kitab suci sebelumnya, Al-Qur’an akan senantiasa dijaga ke-asliannya sampai akhir jaman. Tidak akan kita temui pertentangan didalam al-Qur’an. Jadi, masihkah kita ragu untuk membaca Al-Qur’an???
“Siapa saja yang belajar alquran dan mengamalkannya, pada hari kiamat (Allah SWT) akan memberikan kepada kedua orangtuanya mahkota yang cahayanya lebih indah dari cahaya matahari. Kedua orangtua itu berkata “mengapa kami diberi (mahkota) ini?” Dijawablah, “itu karena anakmu telah mempelajari Al-Qur’an”.(HR Imam Abu Dawud, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Hakim)
dicopas dari:http://habibalhabsy.blogspot.com/2010/10/umar-jin-dan-kita.html?view=mosaic
0 Response to "Umar, Jin dan Kita"
Posting Komentar