Suatu zat cair dikatakan mendidih jika tekanan uapnya
sama dengan tekanan atmosfer (tekanan udara luar) di atas permukaan
cairan. Adapun suatu zat dikatakan membeku jika partikel-partikel zat
itu berada dalam kisi-kisi kesetimbangan sehingga tidak terjadi gerakan
partikel, selain getaran di tempatnya.
1. Kenaikan Titik Didih Larutan (ΔTd / ∆Tb)
Tahukah kamu bagaimana terjadinya pendidihan? Pendidihan terjadi
karena panas meningkatkan gerakan atau energi kinetik, dari molekul yang
menyebabkan cairan berada pada titik di mana cairan itu menguap, tidak
peduli berada di permukaan teratas atau di bagian terdalam cairan
tersebut. [1]
Titik didih cairan berhubungan dengan tekanan uap. Bagaimana hubungannya?
Coba perhatikan penjelasan berikut ini.
Apabila sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang tinggi pada suhu
tertentu, maka molekul-molekul yang berada dalam larutan tersebut mudah
untuk melepaskan diri dari permukaan larutan. Atau dapat dikatakan pada
suhu yang sama sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang rendah, maka
molekul-molekul dalam larutan tersebut tidak dapat dengan mudah
melepaskan diri dari larutan. Jadi larutan dengan tekanan uap yang lebih
tinggi pada suhu tertentu akan memiliki titik didih yang lebih rendah.
[1]
Cairan akan mendidih ketika tekanan uapnya menjadi sama dengan
tekanan udara luar. Titik didih cairan pada tekanan udara 760 mmHg
disebut titik didih standar atau titik didih normal. Jadi yang dimaksud
dengan titik didih adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu
sama dengan tekanan udara luar (tekanan pada permukaan cairan).
Telah dijelaskan di depan bahwa tekanan uap larutan lebih rendah
dari tekanan uap pelarutnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu
mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut sehingga kecepatan penguapan
berkurang. [1]
Hubungan antara tekanan uap jenuh dan suhu air dalam larutan berair ditunjukkan pada Gambar 1. berikut.
![]() |
| Gambar 1. Diagram P – T air dan suatu larutan berair. (Sumber: Kimia untuk Universitas) |
Garis mendidih air digambarkan oleh garis CD, sedangkan garis
mendidih larutan digambarkan oleh garis BG. Titik didih larutan
dinyatakan dengan Tb1, dan titik didih pelarut dinyatakan dengan Tb0. Larutan
mendidih pada tekanan 1 atm. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa
titik didih larutan (titik G) lebih tinggi daripada titik didih air
(titik D). [1]
Oleh karena tekanan uap larutan zat non volatil lebih rendah dari
pelarut murninya maka untuk mendidihkan larutan perlu energi lebih
dibandingkan mendidihkan pelarut murninya. Akibatnya, titik didih
larutan akan lebih tinggi daripada pelarut murninya.
Besarnya kenaikan titik didih larutan, ΔTd (relatif terhadap titik didih pelarut murni) berbanding lurus dengan kemolalan larutan. Dalam bentuk persamaan dinyatakan dengan: ΔTd / ∆Tb ≈ m, atau ;
ΔTd = Kd x m
Kd adalah tetapan kesetaraan titik didih molal. Harga Kd bergantung pada jenis pelarut (Tabel 1).
Tabel 1. Tetapan Kenaikan Titik Didih Molal (Kd) Beberapa Pelarut
|
Pelarut
|
Titik Didih (°C)
|
Kd (°C m–1)
|
|
Air (H2O)
Benzena (C6H6)
Karbon tetraklorida (CCl4)
Etanol (C2H6O)
Kloroform (CHCl3)
Karbon disulfida (CS2)
|
100
80,1
76,8
78,4
61,2
46,2
|
0,52
2,53
5,02
1,22
3,63
2,34
|
|
Sumber: General Chemistry, 1990
|
||
Pada Tabel 1. tampak bahwa Kd air = 0,52 °C m–1.
Artinya, suatu larutan dalam air dengan konsentrasi satu molal akan
mendidih pada suhu lebih tinggi sebesar 0,52 °C dari titik didih air.
Dengan kata lain, titik didih larutan sebesar 100,52 °C.
Contoh Soal Menghitung Titik Didih Larutan (1) :
Suatu larutan dibuat dengan melarutkan 5 g gliserol (C3H8O3, Mr = 92) ke dalam 150 g air. Berapakah titik didih larutan, jika titik didih air 100 °C? (Kd air = 0,52 °C m–1)
Jawaban :
molalitas larutan = = 0,36 m
ΔTd = Kd x m = 0,52 °C m–1 x 0,36 m = 0,19 °C
Jadi, titik didih larutan adalah 100,19 °C.
Data kenaikan titik didih larutan dapat dipakai untuk menentukan
massa molekul relatif zat terlarut. Oleh karena kenaikan titik didih
berbanding lurus dengan molalitas larutan maka massa molekul relatif zat
terlarut dapat ditentukan dengan mengubah persamaan molalitasnya.
ΔTd = Kd
Mr zat terlarut = Kd x
Contoh Soal Menghitung Mr Berdasarkan Data Td Larutan (2) :
Zat X sebanyak 7,4 g dilarutkan dalam 74 g benzena menghasilkan
titik didih larutan sebesar 82,6 °C. Tentukan massa molekul relatif zat
X. (Titik didih benzena 80,2 °C dan tetapan titik didih molal benzena
2,53 °C m–1)
Pembahasan :
Mr X = 2, 36 °C m–1 x
Mr X = 105,42
Jadi, massa molekul relatif zat X adalah 105,42.
Untuk membuktikan kenaikan titik didih larutan, Anda dapat melakukan percobaan berikut.
Praktikum Kenaikan Titik Didih Larutan 1 : [1]
A. Tujuan
Mengamati titik didih larutan.
B. Alat dan Bahan
– Tabung reaksi
– Air suling
– Gelas kimia 400 mL
– Aquades
– Termometer (0 °C – 13 °C)
– Larutan urea 0,1 m dan 0,5 m
– Pemanas spiritus
– Larutan NaCl 0,1 m dan 0,5 m
– Kawat kasa
– Kaki tiga
C. Cara Kerja
1. Masukkan air suling ke dalam gelas kimia 400 mL dan panaskan dengan pemanas spiritus hingga mendidih.
2. Masukkan 10 mL aquades ke dalam tabung reaksi.
3. Masukkan tabung reaksi ke dalam air mendidih dalam gelas kimia di atas. Perhatikan gambar di bawah ini!
4. Amati dan catat perubahan suhu aquades dalam tabung reaksi setiap 15 detik sampai diperoleh suhu tetap.
5. Ulangi langkah 1 – 4 di atas untuk larutan urea 0,1 m dan 0,5 m, serta pada larutan NaCl 0,1 m dan 0,5 m.
6. Hitung selisih titik didih dari titik didih aquades dengan titik didih larutan.
D. Hasil Percobaan
|
No.
|
Larutan
|
Titik Didih (°C)
|
Selisih Titik Didih (°C)
|
|
1.
|
Aquades
|
||
|
2.
|
Urea 0,1 m
|
||
|
3.
|
Urea 0,5 m
|
||
|
4.
|
NaCl 0,1 m
|
||
|
5.
|
NaCl 0,1 m
|
E. Analisa Data
- Bagaimana pengaruh besarnya molalitas terhadap kenaikan titik didih untuk larutan yang sama?
- Bagaimana pengaruh jenis zat (elektrolit atau non elektrolit) terhadap titik didih larutan dengan molalitas yang sama?
- Apakah kesimpulan dari kegiatan di atas?
Dari percobaan di atas dapat diketahui bahwa titik didih suatu
larutan dapat lebih tinggi ataupun lebih rendah dari titik didih
pelarut, bergantung pada kemudahan zat terlarut tersebut menguap.
Menurut hukum Raoult, besarnya kenaikan titik didih larutan
sebanding dengan hasil kali dari molalitas larutan (m) dengan kenaikan
titik didih molal (Kb).
Contoh Soal 3 : [1]
Natrium hidroksida 1,6 gram dilarutkan dalam 500 gram air. Hitung titik didih larutan tersebut! (Kb air = 0,52 °C m–1, Ar Na = 23, Ar O = 16, Ar H = 1)
Penyelesaian:
Diketahui :
m = 1,6 gram
p = 500 gram
Kb = 0,52 °C m–1
Ditanya : Tb …?
Jawaban : ΔTb = m x Kb
ΔTb = x Kb
ΔTb = x 0,52 °C m–1
ΔTb = 0,04 x 2 x 0,52 °C
ΔTb = 0,0416 °C
Tb = 100 °C + b ΔT
Tb = 100 °C + 0,0416 °C
Tb = 100,0416 °C
Jadi, titik didih larutan NaOH adalah 100,0416 °C.
Zat anti didih yang ditambahkan ke dalam radiator berfungsi mengurangi penguapan air dalam radiator.
2. Penurunan Titik Beku Larutan (ΔTf)
Penambahan zat terlarut non volatil juga dapat menyebabkan
penurunan titik beku larutan. Gejala ini terjadi karena zat terlarut
tidak larut dalam fasa padat pelarutnya. Contohnya, jika sirup
dimasukkan ke dalam freezer maka gula pasirnya akan terpisah dari es
karena gula pasir tidak larut dalam es.
Agar tidak terjadi pemisahan zat terlarut dan pelarutnya ketika
larutan membeku, diperlukan suhu lebih rendah lagi untuk mengubah
seluruh larutan menjadi fasa padatnya. Seperti halnya titik didih,
penurunan titik beku (ΔTf) berbanding lurus dengan kemolalan larutan :
ΔTf ≈ m,
atau
ΔTf = Kf x m
Kf disebut tetapan penurunan titik beku molal. Harga Kf untuk beberapa pelarut dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Tabel 1. Tetapan Penurunan Titik Beku Molal (Kf) Beberapa Pelarut
Nilai Kf untuk benzena 5,12 °C m–1. Suatu
larutan dari zat terlarut non volatil dalam pelarut benzena sebanyak 1
molal akan membeku pada suhu lebih rendah sebesar 5,12 °C dari titik
beku benzena. Dengan kata lain, titik beku larutan zat non volatil dalam
pelarut benzena sebanyak 1 molal akan mulai membeku pada suhu (5,5 –
5,12) °C atau 0,38 °C.
Penerapan dari penurunan titik beku digunakan di negara yang
memiliki musim dingin. Suhu udara pada musim dingin dapat mencapai suhu
di bawah titik beku air. Oleh karena itu, dalam air radiator mobil
diperlukan zat antibeku yang dapat menurunkan titik beku air. Zat
antibeku yang banyak digunakan dalam radiator adalah etilen glikol (C2H6O2).
Selain pada radiator, penerapan dari penurunan titik beku juga
digunakan untuk mencairkan es di jalan-jalan dan trotoar pada musim
dingin. Hal ini dilakukan dengan cara menaburkan garam-garam,
seperti CaCl2 dan NaCl sebagai penurun titik beku air sehingga es dapat mencair.
Contoh Soal Menghitung Penurunan Titik Beku Larutan (4) :
Hitunglah titik beku larutan yang dibuat dari 6,2 g etilen glikol dalam 100 g air.
Jawaban :
molalitas larutan = = 1 m
Penurunan titik beku larutan :
ΔTf = Kf x m = (1,86 °C m–1) ( 1 m) = 1,86 °C
Titik beku larutan = Titik beku normal air – ΔTf = (0,0 – 1,86) °C = –1,86 °C
Jadi, titik beku larutan etilen glikol adalah –1,86 °C
Sama seperti kenaikan titik didih, penurunan titik beku larutan
dapat digunakan untuk menentukan massa molekul relatif zat terlarut.
Mr zat terlarut = Kf
Contoh Soal Menghitung Mr dari Data ΔTf (5) :
Suatu larutan dibuat dengan cara melarutkan 3 g zat X ke dalam 100
mL air. Jika titik beku larutan – 0,45 °C, berapakah massa molekul
relatif zat X?
Penyelesaian :
Nilai Kf air = 1,86 °C m–1.
ΔTf = {0 – (– 0,45)}°C = 0,45°C
Mr X = 1,86 °C m–1 x = 124
Jadi, Mr zat X adalah 124.
Percobaan / Praktikum Penurunan Titik Beku Larutan (2) : [1]
A. Tujuan
Mengamati penurunan titik beku larutan.
B. Alat dan Bahan
– Tabung reaksi
– Aquades
– Gelas kimia 400 mL
– Larutan glukosa 0,1 m dan 0,5 m
– Termometer (-10 °C – 50 °C)
– Garam dapur (NaCl)
– Spatula
– Es batu
C. Cara Kerja
1. Masukkan potongan-potongan kecil es batu ke dalam gelas kimia
hingga 3/4 tinggi gelas kimia. Kemudian tambahkan 10 sendok teh garam
dapur. Campur es batu dan garam dapur tersebut. Campuran ini kita sebut
campuran pendingin.
2. Isilah tabung reaksi dengan aquades hingga setinggi 2 – 3 cm.
3. Masukkan tabung reaksi tersebut ke dalam campuran pendingin
tadi. Ukur suhu aquades dengan termometer sambil sesekali diaduk hingga
aquades tersebut membeku. Perhatikan gambar!
4. Setelah suhu tidak turun lagi, angkat tabung reaksi dari campuran pendingin.
5. Ukur kembali suhu aquades yang telah membeku setiap 15 detik hingga mencair lagi. Tulis hasil pengamatan dalam bentuk tabel.
6. Ulangi langkah 2 sampai 5 di atas untuk larutan glukosa 0,1 m dan 0,5 m serta pada larutan NaCl 0,1 m dan 0,5 m.
D. Hasil Percobaan
|
No.
|
Larutan
|
Titik Beku (°C)
|
Selisih Titik Beku (°C)
|
|
1.
|
Aquades
|
||
|
2.
|
Urea 0,1 m
|
||
|
3.
|
Urea 0,5 m
|
||
|
4.
|
NaCl 0,1 m
|
||
|
5.
|
NaCl 0,1 m
|
E. Analisa Data
- Bagaimana pengaruh besarnya molalitas terhadap penurunan titik beku untuk larutan yang sama?
- Bagaimana pengaruh jenis zat (elektrolit atau non elektrolit) terhadap titik didih larutan dengan molalitas yang sama?
- Apakah kesimpulan dari percobaan ini?
Dari percobaan di atas dapat diketahui bahwa makin tinggi konsentrasi zat terlarut makin rendah titik beku larutan.
Anda sekarang sudah mengetahui Kenaikan Titik Didih (∆Tb) dan Penurunan Titik Beku (∆Tf). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.
Referensi :
Sunarya, Y. dan A. Setiabudi. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Kimia 3
: Untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah. Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 298.
Referensi Lainnya :
[1] Sukmanawati, W. 2009. Kimia 3 : Untuk SMA/ MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 266



0 Response to "Kenaikan Titik Didih (∆Tb) dan Penurunan Titik Beku (∆Tf) Larutan, Contoh Soal, Praktikum"
Posting Komentar